Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan psychological well-being pada perempuan yang mengalami perjodohan dalam pernikahan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus terhadap dua partisipan perempuan berusia empat puluh delapan tahun yang mengalami perjodohan di Kabupaten Luwu. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan psychological well-being pada kedua subjek. Subjek pertama memperlihatkan psychological well-being yang rendah, ditandai dengan penerimaan diri yang kurang baik, kesulitan membangun hubungan positif, otonomi yang lemah, penguasaan lingkungan yang terbatas, tujuan hidup yang kurang terarah, dan pertumbuhan pribadi yang rendah. Sebaliknya, subjek kedua menunjukkan psychological well-being yang tinggi, ditandai oleh penerimaan terhadap pengalaman hidup, hubungan interpersonal yang hangat, arah hidup yang lebih jelas, makna hidup yang kuat, dan perkembangan diri yang lebih baik. Temuan ini menunjukkan bahwa dukungan sosial, pola asuh keluarga, spiritualitas, kondisi sosial ekonomi, dan evaluasi terhadap pengalaman hidup berperan penting dalam membentuk psychological well-being perempuan dalam pernikahan hasil perjodohan.
