JURNAL PSIKOLOGI SKIsO (Sosial Klinis Industri Organisasi) https://jurnal.uit.ac.id/JPS <p>JURNAL PSIKOLOGI SKIsO (Sosial Klinis Industri Organisasi) merupakan jurnal yang memuat karya ilmiah dan artikel-artikel dari berbagai bidang ilmu psikologi seperti psikologi klinis, psikologi Sosial, psikologi pendidikan,psikologi industri, psikologi Organisasi, psikologi gender dan psikologi perkembangan anak maupun prenatal. Jurnal ini diterbitkan oleh Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Timur setiap 6 bulan sekali yaitu pada bulan April dan bulan Oktober.</p> Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Timur (UIT) en-US JURNAL PSIKOLOGI SKIsO (Sosial Klinis Industri Organisasi) 2657-1447 10.36090 KEPUASAN PERKAWINAN PADA PASANGAN TANPA ANAK https://jurnal.uit.ac.id/JPS/article/view/1555 <p>Penelitian ini bertujuan mengkaji kepuasan perkawinan pada pasangan yang tidak memiliki anak. Topik ini penting karena kehadiran anak sering dipandang sebagai penanda kelengkapan kehidupan rumah tangga, sehingga ketidakberadaan anak dapat memengaruhi cara pasangan memaknai kualitas perkawinannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dan dilaksanakan pada bulan Juni sampai Agustus 2016. Partisipan penelitian adalah dua pasangan suami istri atau empat orang subjek. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya pola kepuasan perkawinan yang berbeda pada masing-masing pasangan. Pasangan pertama cenderung belum puas terhadap kehidupan perkawinannya terutama karena belum dikaruniai anak, meskipun pada aspek komunikasi, orientasi keagamaan, penyelesaian konflik, pengelolaan keuangan, hubungan seksual, kegiatan waktu luang, kesetaraan peran, dan relasi keluarga mereka menunjukkan kondisi yang cukup baik. Pasangan kedua menunjukkan kepuasan perkawinan yang relatif lebih baik walaupun juga belum memiliki anak, karena hampir seluruh aspek kepuasan perkawinan terpenuhi dalam kehidupan sehari-hari. Temuan ini menunjukkan bahwa kepuasan perkawinan bersifat relatif dan tidak hanya ditentukan oleh kehadiran anak, melainkan juga oleh kualitas interaksi, penerimaan, dan penyesuaian antar pasangan.</p> munaing Naim Sri Hasrini ##submission.copyrightStatement## 2026-03-14 2026-03-14 1 1 1 6 10.36090 COPING STRES AYAH SEBAGAI ORANG TUA TUNGGAL PASCA PERCERAIAN https://jurnal.uit.ac.id/JPS/article/view/pdf <p>Penelitian ini mengkaji coping stres ayah yang menjadi orang tua tunggal pasca perceraian. Topik ini penting karena perceraian mengubah struktur keluarga dan menempatkan ayah pada peran ganda sebagai pencari nafkah sekaligus pengasuh utama, kondisi yang dapat memunculkan tekanan emosional, sosial, dan praktis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi terhadap dua orang ayah tunggal di Kota Makassar. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi, kemudian dianalisis dengan langkah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua subjek mengalami tekanan psikologis yang kuat terkait beban pengasuhan, tanggung jawab ekonomi, pengelolaan rumah tangga, serta perubahan peran setelah perceraian. Pola coping yang tampak cenderung maladaptif, seperti meluapkan kemarahan kepada anak, menghindari rumah, merokok berlebihan, konsumsi minuman keras, perjudian, dan pada salah satu subjek penggunaan zat terlarang. Meskipun demikian, kedua subjek tetap menunjukkan keterikatan dengan anak dan berupaya menjalankan pengasuhan di tengah keterbatasan. Temuan ini mengindikasikan perlunya penguatan regulasi emosi, kompetensi pengasuhan, dan dukungan sosial bagi ayah tunggal pasca perceraian. Implikasi penelitian ini adalah pentingnya layanan pendampingan psikologis dan edukasi pengasuhan agar strategi coping ayah menjadi lebih adaptif dan tidak berdampak negatif pada anak.</p> <p>&nbsp;</p> Dewi Angreini Faisal Ramdhan ##submission.copyrightStatement## 2026-03-14 2026-03-14 1 1 7 11 10.36090 HUBUNGAN ANDROPAUSE DENGAN STRES PADA PRIA BERISTRI https://jurnal.uit.ac.id/JPS/article/view/1569 <p><strong>Hubungan Andropause dan Stres pada Pria Beristri </strong>Andropause merupakan kondisi penurunan fungsi terkait testosteron pada pria paruh baya hingga lanjut usia yang berlangsung bertahap, dan dapat disertai perubahan psikologis yang meningkatkan kerentanan terhadap stres. Penelitian ini bertujuan menguji hubungan antara keluhan/gejala andropause dan stres pada pria beristri di Kecamatan Rappocini, Kota Makassar. Desain penelitian adalah kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Partisipan berjumlah 100 pria beristri usia &gt;40 tahun yang memenuhi kriteria inklusi (istri sah, lama perkawinan &gt;15 tahun, minimal dua anak, berdomisili di Makassar). Keluhan andropause diukur dengan skala andropause yang disusun berdasarkan indikator ADAM, sedangkan stres diukur dengan skala stres berdasarkan karakteristik stres umum. Data memenuhi asumsi normalitas dan linearitas (p&gt;0,05). Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan hubungan positif dan sangat signifikan antara andropause dan stres (r=0,562; p&lt;0,001), dengan sumbangan efektif sebesar 31,5% (R²=0,315). Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin banyak keluhan andropause yang dirasakan, semakin tinggi tingkat stres pada pria beristri. Implikasi penelitian menekankan pentingnya edukasi, skrining dini, dan intervensi gaya hidup sehat untuk membantu adaptasi pria pada masa andropause.</p> zul Zulfikar Andi Resvi ##submission.copyrightStatement## 1 1 12 18 10.36090 DINAMIKA PSIKOLOGIS PRIA LAJANG USIA DEWASA MADYA https://jurnal.uit.ac.id/JPS/article/view/1570 <p>Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi ini bertujuan mengungkap dinamika psikologis pria yang belum menikah pada usia dewasa madya (40–60 tahun) di Kota Makassar. Partisipan berjumlah dua orang pria berusia 43 dan 51 tahun, dipilih secara purposive. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi‑terstruktur dan observasi, dilengkapi catatan lapangan. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan, dengan upaya keabsahan data seperti triangulasi dan member check. Hasil menunjukkan bahwa kedua partisipan memaknai hidup melajang sebagai kebebasan dan kemandirian, namun tetap meyakini pernikahan sebagai tuntutan perkembangan dan norma sosial. Faktor pendorong tetap melajang meliputi keinginan untuk hidup bebas dan mandiri, kecenderungan selektif dalam memilih pasangan, kekhawatiran terkait mahar/uang panai dan kesiapan ekonomi, serta kejenuhan dalam relasi. Secara psikologis, status lajang memunculkan emosi yang tidak stabil, rasa sepi, malu, dan ketidakbahagiaan, yang tampak dalam respon kognitif dan perilaku berbeda—mulai dari perilaku penghindaran hingga upaya terarah mengumpulkan modal untuk menikah. Temuan ini menegaskan interaksi antara tekanan sosial-budaya dan makna personal dalam membentuk dinamika emosi, kognisi, dan perilaku pria lajang dewasa madya.</p> Joko Pur Purwanto Askari Hasanuddin ##submission.copyrightStatement## 2026-03-14 2026-03-14 1 1 19 24